Disbudpar: Pariwisata Ibu Kota Jawa Tengah Harus Miliki Sertifikat CHSE

SEMARANG (iPOLICENews) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menggelar acara pembinaan bagi pelaku pariwisata.

Kegiatan yang mengusung tema ‘Strategi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam Membangkitkan Sektor Pariwisata Melalui Program Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) dan Peduli Lindungi’ berlangsung di Gedung Oudetrap di Kawasan Kota Lama, Kelurahan Tanjung Emas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Rabu (22/9/2021).

Diketahui, program aplikasi PeduliLindungi dan sertifikat CHSE diberikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI pada November 2020 lalu.

Untuk itu, Disbudpar Kota Semarang gencar mensosialisasikan kepada para pelaku pariwisata di Kota Semarang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari menyampaikan, kegiatan ini dilakukan untuk memberikan pembinaan para pelaku pariwisata, baik yang dikelola kelompok sadar wisata (Pokdarwis) maupun Pemkot Semarang.

Sebelumnya, pihaknya sudah melakukan pembinaan kepada hotel, restoran, dan cafe. “Kita kumpulkan hari ini, tujuannya untuk mewujudkan pariwisata Kota Semarang yang sehat,” kata Indriyasari.

Menurut Iin, sapaan akrab Kepala Disbudpar Kota Semarang itu menjelaskan, bahwa pariwisata di Ibu Kota Jawa Tengah harus memiliki sertifikat CHSE. Kemudian pariwisata juga harus menyiapkan aplikasi PeduliLindungi.

“Sehat itu yang utama, yang kami lengkapi adalah sertifikat CHSE. Setelah sertifikasi CHSE ada aplikasi PeduliLindungi,” tuturnya.

Dirinya mengungkapkan, bahws aplikasi PeduliLindungi masih menggunakan secara manual. Untuk itu, Disbudpar akan membantu agar aplikasi tersebut bisa berfungsi secara otomatis, apalagi aplikasi itu memiliki banyak manfaatnya.

Iin menghimbau para pengunjung yang datang dalam keadaan sehat. Kedua, pengelola industri pariwisata juga menerapkan pembatasan secara ketat. Misalnya pembatasan durasi jumlah pengunjung.

“Kalau hotel dan restoran sudah ada 100 lebih yang bersertifikat CHSE. Mereka juga sudah terhubung dengan aplikasi PeduliLindungi, tapi untuk destinasi wisata ini baru satu yang mempunyai, dan kemarin di jadikan percontohan,” katanya.

Terkait destinasi wisata yang memiliki sertifikat baru satu, Disbudpar Kota Semarang akan berusaha agar tahun ini supaya semua destinasi wisata Kota Semarang memiliki sertifikat CHSE dan Peduli Lindungi.

Menurutnya, upaya itu untuk menjamin rasa aman bagi pengunjung dan pengelola destinasi wisata di Kota Semarang.

“Itu akan kami bantu bagi destinasi wisata. Hari ini kami mendatangkan tim asesor dan asosiasi, juga nantinya akan membantu mendaftarkan. Setelah sosialisasi, kita akan kerjakan,” tandasnya.

Pihaknya juga akan memberikan tips-tips kepada pelaku destinasi wisata, agar mudah mendapatkan persetujuan dari pusat.

Dijelaskan bahwa sertifikat itu dikeluarkan oleh Kemenparekraf RI, kemudian dilakukan audit dari pihak ketiga independen. Pihaknya akan selalu mengejar agar mendapatkan sertifikat tersebut.

“Sertifikat itu dikeluarkan kementerian pariwisata, setelah sebelumnya dilakukan audit dari pihak ketiga independen. Itu yang akan kami kejar, setelah sertifikat CHSE sudah dapat. Kami kejar aplikasi PeduliLindungi dari Kemenkes,”ujarnya.

Iin akan menargetkan destinasi wisata yang dikelola Pemkot Semarang semua memiliki sertifikat CHSE.

“Tahun ini, paling tidak untuk destinasi wisata yang dikelola Pemkot bisa mendapat sertifikat, ” ungkapnya.

Pada kesempatan itu Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman menanggapi adanya industri wisata memiliki sertifikat CHSE dan aplikasi PeduliLindungi.

Pilus, sapaan akrab Ketua DPRD Kota Semarang itu mengaku bangga terhadap kinerja Disbudpar Kota Semarang yang sudah memberikan sosialisasi sertifikat CHSE dan aplikasi PeduliLindungi.

“Acara ini keren. Soalnya bisa memberikan semangat para pelaku usaha wisata. Kedua, Disbudpar sangat peduli. Kondisi saat ini, destinasi wisata yang sudah memiliki sertifikat adalah Maerokoco,” kata Pilus.

Atas kinerja Disbudpar yang memberikan kesempatan kepada industri wisata, pihaknya memberikan apresiasi karena Disbudpar sudah mendatangkan pengelola Maerokoco dengan pelaku wisata lainnya.

“Itu membuat pengelola lainnya bisa mendapatkan sertifikat. Saya bangga, Semarang bangkit. Apalagi destinasi wisata mampu mengembalikan perekonomian,” pungkasnya. (Nn)

Halaman ini telah dilihat: 6 kali
Mari berbagi:

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *