Sangat Wajar Hasil Peringkat ke-enam Kontingen Jawa Tengah pada PON XX Papua

Oleh : Pudjo Rahayu Risan

SEMARANG (iPOLICENews) – Publik, khususnya publik Jawa Tengah (Jateng) sempat bertanya serta keheranan, mengapa Kontingen Jateng hanya menduduki peringkat ke-enam hasil akhir PON XX di Papua.

Pertanyaan dan keheranan tersebut bisa dipahami, bahwa publik melihat hasil atau output bukan melihat input dan proses. Yang dilihat adalah peringkat, serta jumlah medali.

Secara empirik Jateng yang langganan peringkat ke-empat dibawah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Timur, PON XX Papua, Jateng dibawah Papua dan Bali.

Pertanyaan dan keheranan publik, rupanya sesuai dengan pernyataan Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Taj Yasin Maimoen, segera melakukan evaluasi menyeluruh terkait raihan medali pada PON XX Papua yang menempatkan Jateng di peringkat ke-enam. “Akan kami evaluasi dan perbaiki. Semoga di PON XXI nanti bisa lebih baik dan juara, Insya Allah,” kata Gus Yasin.

Sangat wajar.
Penulis berpendapat, bahwa sangat wajar hasil peringkat ke-enam bagi kontingen Jateng pada PON XX Papua. Kita harus adil atau fair, ketika menilai dan melihat hasil atau output harus menganalisa input dan proses. Mengapa ? Hasil selalu dipengaruhi oleh input dan proses. Input dan proses tidak pernah bohong terhadap hasil.

Dengan demikian, variable input dan proses sangat berpengaruh besar terhadap hasil. Diawali dari variable-variabel yang tergabung sebagai input untuk diproses. Variabel input yang utama adalah dana. Variabel berikutnya atlit, pelatih, sarana prasarana, pengurus cabang olahraga (Cabor), KONI, Eksekutif didalamnya OPD terkait Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), dan Legislatif.

Variabel-variable input sangat berpengaruh terhadap proses dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil. Variabel utama pada input adalah dana atau anggaran. Sebagai ilustrasi, kita lihat pemberitaan tentang anggaran pada waktu persiapan, 8 Juli 2021 tiga bulan sebelum PON XX Papua. Intinya, KONI Jateng berharap anggaran dana segera cair untuk persiapan menghadapi PON XX di Papua yang tinggal beberapa bulan.

Bendahara Umum KONI Jateng, Prasetyo Budie Yuwono menyatakan, besaran dana untuk KONI Jateng pada APBD Jateng 2021 seniai Rp75 miliar. Bahkan KONI meminta agar bisa turun atau cair satu termin.

Pertimbangannya, dana tersebut, untuk membayar pengadaan seragam, tiket penerbangan, dan perhotelan sudah dilakukan dengan pihak ketiga yang sudah berjalan. Semua penandatangan kontrak menunggu tersedianya dana. Ternyata variable dana sangat strategis. Belum bicara sejauh mana anggaran dengan pagu sebesar 75 M akan mempengaruhi proses persiapan.

Jer Basuki Mawa Beya.

Tiga variable penting yang dominan mempengaruhi hasil, pertama dana, kedua atlit dan ketiga pelatih. Bukan berarti variable yang lain tidak penting. Dari tiga variable yang dominan, paling utama adalah variable dana. Dalam konteks persiapan PON XX Papua, dana menjadi vital dan berpengaruh signifikan terhadap sejak perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi.

Dalam perencanaan seperti contoh yang disampaikan oleh bendahara umum untuk membayar pengadaan seragam, tiket penerbangan, dan perhotelan sudah dilakukan dengan pihak ketiga yang sudah berjalan. Semua penandatangan kontrak menunggu tersedianya dana. Belum juga sarana prasarana untuk kebutuhan atlit.

Seberapa besar pengaruh dana terhadap hasil peroleh medali dan peringkat di PON XX Papua. Dari banyak kegiatan dan pengadaan kita ambil contoh pelaksanaan TC. Contoh pada proses pemusatan latihan. Juga karena pertimbangan dana yang tersedia sekaligus probabilitas meraih medali, maka dibagi tiga kategori. Kelompok A, yang dipersiapkan mampu mendulang medali emas durasi TC sembilan bulan lamanya. Kelompok B, yang diprediksi menyumbang medali perak durasi TC enam bulan. Kelompok C, yang diharapkan pulang membawa medali, perunggupun sudah baik durasi TC cukup tiga bulan. Bisa kita bayangkan, TC selama tiga bulan sangat dirasa kurang.

Dengan TC selama tiga bulan, apa yang bisa berubah untuk lebih berkualitas ? Atlit yang tergabung dalam kontingen Jawa Tengah, dengan kategori atau atlit kelas lokal, nasional dan internasional. Karena tergabung dalam satu kontingen maka asupan makan tidak dibedakan. Contoh, sekali makan dipatok Rp. 50.000 sekali makan. Berarti sehari ada anggaran Rp. 150.000,

Sementara, atlit nasional dan internasional ketika mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) untuk pagu sekali makan Rp. 150.000. Perbandingan berdasarkan kemampuan, satu banding tiga. Pelatnas sekali makan di daerah bisa untuk makan sehari. Ini menggambarkan bahwa anggaran yang disediakan sangat terbatas. Berimbas kepada seluruh proses menuju hasil.

Maka ada istilah, “Jer Basuki Mawa Beya”. Pepatah Jawa tersebut kiranya cukup tepat untuk menggambarkan perlunya pengerahan berbagai sumber daya dalam hal ini dana, guna keberhasilan PON dimasa datang. “Jer basuki mawa beya”, setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan. Disamping pengorbanan dari sisi dana, perlu juga penanganan atlit secara benar. Personalisasikan olahraga melalui profil DNA, bisa menjadi pertimbangan untuk mengahadapi PON yang akan datang.

Kenyataan dilapangan, dari satu individu ke individu lainnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Maka penanganannya harus disesuai, baik bentuk fisik, jenis olahraga, latihan fisik, durasi olahraga, dan risiko cedera otot yang dimiliki. Tentu saja banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Beberapa faktor yang membuat perbedaan tersebut, seperti faktor lingkungan, faktor makanan, dan faktor genetik. Dimana faktor genetik memiliki peranan penting dalam menentukan cara tubuh merespon olahraga yang dilakukan. Disinilah perlunya disesuaikan dengan profil DNA Atlit.

Dokter spesialis Ilmu Rehabilitasi Medik, dr. Bona Anggi Pardede, Sp.KFR, M.Ked.Klin, menyampaikan bahwa ilmu yang mempelajari hubungan antara olahraga dan genetik disebut dengan istilah ‘Sportgenomik’. Mumpung masih ada waktu, Sportgenomik bisa digunakan untuk screening potensi atlet. Misalnya, sebagai contoh, sekelompok pemain bola diteliti dan ternyata hasilnya cocok untuk berlari atau oalahraga yang lain.
Politik Anggaran.

Tindak lanjut dari “Jer Basuki Mawa Beya” dan perlunya personalisasikan olahraga melalui profil DNA, karena prestasi olah raga tidak bisa diraih secara instan, maka politik anggaran menjadi sumber dari “masalah” yang dihadapi. Mau meningkatkan peringkat dengan mendulang medali, perlu biaya dan sportgenomik. “Jer Basuki Mawa Beya”.

Politik anggaran, merupakan pendekatan kebijakan politik yang mesti dilakukan oleh pihak eksekutif (Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata) dan legislative (Komisi E DPRD) dengan kemauan dan niat mau dibawa kemana olah raga Jateng, paling tidak diperhelatan PON.

Perencanaan anggaran untuk pembinaan olah raga, bisa mengadopsi anggaran untuk Pilkada atau dana cadangan untuk bencana alam.

Sudah waktunya, apalagi PON kan jelas dilaksanakan empat tahun sekali. Kalau ada niat dan kemauan bisa dilakukan dengan cara “saving” selama empat tahun dicicil per tahun. Berapa idea kira-kira anggaran yang perlu disiapkan untuk, paling tidak persiapan PON XXI, dua kali lipat dari anggaran PON XX Rp. 75 M, yaitu Rp. 150 M.

Itulah konsekuensi apabila Jateng ingin menjadikan olah raga sebagai suatu kebanggaan masyarakatnya. Kenapa ? Karena olah raga mampu membangkitkan nasionalisme paling mudah dilakukan melalui gelaran-gelaran pada berbagai tingkatan skala nasional maupun internasional. Wajar dengan 75 M Jateng peringkat enam, maka perlu ditingkatkan anggarannya, paling tidak 150 M.

(Pudjo Rahayu Risan, Pengamat Kebijakan Publik)

Halaman ini telah dilihat: 6 kali
Mari berbagi:

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *