Disdik Minta Guru Fokus Terhadap Pendidikan Karakter Siswa

SEMARANG (iPOLICENews) – Setelah pembelajaran tatap muka (PTM) ditemukan siswa terindikasi positif Covid-19 di beberapa sekolah yang ada di Kota Semarang pada (1/11/21) lalu. Sehingga semua jenjang pendidikan mengubah stateginya, dari tatap muka di kelas menjadi online selama 7 hari. Pengubahan strategi itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang meminta guru SD dan SMP menjadikan pendidikan karakter sebagai fokus pembelajaran terhadap peserta didik. Sebabnya selama pembelajaran jarak jauh (PJJ)  dinilai berdampak menurunnya karakter pada peserta didik. 

Kepala Disdik Kota Semarang Gunawan Saptogiri menilai, penurunan karakter nampak terlihat ketika pertama uji coba PTM di Kota Semarang. Hal itu setelah pihaknya melakukan wawancara kepada peserta didik.

“Itu hasil wawancara dengan peserta didik mungkin ada yang terkena psikososial juga, “kata Kepala Disdik Kota Semarang Gunawan Saptogiri,  Selasa (9/11/2021).

Maka dari itu, ia meminta kepada seluruh guru untuk berinovasi agar karakter siswa bisa kembali meningkat. Menurutnya, penguatan karakter peserta didik tak hanya dilakukan dari guru agama maupun guru BP, namun semua guru harus bisa memberi pendidikan karakter.

“Semua guru sudah saya tekankan untuk melakukan penguatan karakter kepada para peserta didik,” pintanya. 

Gunawan menjelaskan, ada beberapa langkah penguatan karakyer yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik saat PTM antara lain, pemberian materi terkait pandemi Covid-19.

“Dari situ, guru baru berikan penguatan karakter yang berkaitan dengan sikap. Para guru terus kami ingatkan untuk selalu menekankan kedisiplinan, kejujuran, kemandirian, budi pekerti kepada peserta duduk. Memang itu yang sekarang harus terus ditekankan dan harus dikejar, supaya yang kemarin mengalami kemunduran bisa dapat ditingkatkan lagi,” tegasnya. 

Kendati, ia mengungkapkan cara penguatan karakter antara peserta didik SD dengan SMP berbeda. Gunawan yakin kepada semua guru memahami cara memberikan karakter anak usia 7  sampai 12 tahun (SD) hingga anak usia 12 tahun ke atas (SMP). “Mereka (guru) sudah tahu inovasi penguatan seperti apa yang harus dilakukannya,” tuturnya.

Dengan demikian,  ia berpesan kepada guru dan orang tua harus saling bekerjasama dalam rangka penguatan karakter. Soalnya keduanya merupakan pihak yang sangat berperan dalam pembentukan karakter peserta didik.

“Penguatan karakter ini sudah jadi kebutuhan, bukan kebutuhan sekolah sendiri, namun orang tua pun juga sudah merasakannya. Maka dari itu, kita harus kerjasama, saat di sekolah penguatan karakter dari pihak guru. Saat di rumah ya penguatan karakter dari pihak orang tua,” paparnya. (DK)

Halaman ini telah dilihat: 17 kali
Mari berbagi:

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *