DEMAK (iPOLICENews) – Proyek normalisasi Sungai Wulan yang digulirkan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana menuai kekhawatiran dari warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai. Mereka cemas tempat tinggal mereka akan terdampak pengerukan dan pelebaran sungai yang dilakukan guna antisipasi pengendalian banjir.
Warga Dusun Bungo Lor, Kecamatan Wedung, Satmadi, misalnya, menyatakan rasa waswasnya jika normalisasi tersebut mencapai pemukimannya. Rumah yang ia tempati bersama keluarganya selama empat tahun terakhir berada sekitar 200 meter dari bibir sungai dan masih masuk dalam wilayah bantaran.
“Saya dengar katanya tanggulnya akan sampai sini,” ucapnya, sembari menunjuk ke arah samping rumahnya saat ditemui, Kamis (1/5/2025).
“Tapi harapannya sih nggak kena. Mugo-mugo aman,” timpal istrinya.
Informasi yang beredar, menurut beberapa warga, bahwa para petani diimbau tidak menanami lahan di sekitar Sungai Wulan lantaran dikhawatirkan proses normalisasi akan berlangsung sebelum musim panen. Namun sejauh ini belum ada kejelasan pasti mengenai batas wilayah terdampak.
Hal senada diungkapkan Sumaeri, warga yang telah menetap lebih dari satu dekade di wilayah tersebut.
“Sudah lama tinggal di sini, harapannya ya jangan sampai terdampak,” ujarnya singkat.
Kekhawatiran warga semakin menguat setelah Kepala Desa Berahan Wetan, Muarifin, mengonfirmasi bahwa ratusan kepala keluarga di wilayahnya terdampak langsung dari proyek ini.
“Di wilayah Menco saja ada sekitar 371 KK yang terdampak. Saat sosialisasi pertama, warga sangat kaget, karena mereka sudah puluhan tahun tinggal di sana,” terang Muarifin.
Ia pun berharap BBWS dan pemerintah daerah dapat mengkaji ulang rencana teknis agar dampaknya tidak meluas ke permukiman warga.
“Saya sudah sampaikan ke Pemkab dan BBWS, saya mohon warga saya dihindari dari dampak. Sebagai kepala desa, saya ingin membantu warga saya semaksimal mungkin,” pungkasnya.(Ek/IPN)



