BATANG (iPOLINews) – Kodim 0736/Batang mengadakan pemantauan terhadap 6 desa yang dinilai paling rawan mengalami kekeringan saat musim kemarau panjang. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus 2022.
Beberapa desa yang memperoleh perhatian lebih yakni Desa Penundan, Kecamatan Banyuputih, Desa Kemiri Barat dan Kemiri Timur Kecamatan Subah, Desa Batiombo, Wonomerto dan Wonodadi, Kecamatan Bandar.
Batti Bakti TNI Staf Teritorial Kodim Batang Pelda Anthon mengutarakan, rencananya akan ada bantuan air bersih dari TNI AD bagi wilayah yang benar-benar membutuhkan.
“Bentuk bantuan pastinya belum tahu, tapi jika melihat beberapa Kodim di wilayah tetangga, dengan membuat bak tandon air dan pompa hidran,” katanya, Rabu (20/7).
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk wilayah Batang yang dirasa perlu mendapat bantuan ada 6 desa. Selanjutnya diajukan ke Korem 071/Wijayakusuma dan Kodam IV/Diponegoro untuk ditentukan desa mana yang sangat membutuhkan bantuan air bersih.
Kepala Desa Penundan Ahmad Yusuf mengatakan, kebutuhan air sangat utama bagi masyarakat, namun ketika musim kemarau datang debit air sering kali berkurang. Meski telah dibangun Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), sejak 2012, namun kebutuhan air 2.300 warga belum tercukupi sepenuhnya.
“Sempat membuat sumur bor, tapi waktu musim kemarau kondisinya mengering. Semoga ada perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait lainnya, sehingga pasokan air warga kami terpenuhi,” jelasnya.
Kepala Desa Kemiri Barat Ali Muchidin menerangkan, selama musim hujan pasokan air tercukupi, namun ketika memasuki kemarau debit air mulai berkurang.
“Di sini ada 5 dukuh yaitu Kemiri Selatan, Kemloko, Kemiri Utara, Aboyong dan Jumbleng saat kemarau memang kekeringan walau tidak sampai fatal. Di sisi lain ada satu pondok pesantren yang menampung 1.200 santri yang juga membutuhkan sumber air bersih, jadi kendala mereka cuma pasokan air bersih saja karena belum maksimal,” ungkapnya.
Solusi sementara, pihak desa mengambil 10 sumber air dari Desa Kemiri Barat untuk mencukupi 1.023 kepala keluarga ditambah 1.200 santri.
“Untuk memenuhi kebutuhan santri, kami sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (PUDAM) Sendang Kamulyan Batang, dan sedang disurvei. Nanti kalau sudah ada bantuan pasokan air bersih insya Allah para santri tidak kesulitan untuk kesehariannya,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Desa Batiombo Slamet Sukardi mengatakan, saat kemarau sumur-sumur mengering, langkah yang diambil bahkan hingga mengambil air ke desa-desa tetangga.
“Sempat ada bantuan air dari tangki BPBD karena darurat kekurangan air,” ujar dia. (PS)







