MALANG (iPOLICENews) – Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) di Kota Malang saat ini menampung 69 siswa, dari kuota awal sebanyak 75 orang.
Sejumlah siswa tercatat mengundurkan diri sejak awal pembelajaran berlangsung.
Guru Sosiologi sekaligus Wakil Kepala Kurikulum SRMA, Hilwa Uchti Millinia (26), menjelaskan bahwa sistem sekolah berbasis asrama menjadi salah satu faktor utama siswa tidak bertahan. Awalnya kuota 75 siswa, sekarang tersisa 69. Ada yang keluar karena tidak terbiasa berasrama, sakit, hingga kangen rumah,” ujarnya kepada awak media , Minggu (10/5/2026).
Hilwa menyebut, kehidupan berasrama menuntut siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk berbagi ruang dengan teman. Ada beberapa siswa yang tidak betah dengan kondisi seperti itu. Tidak semua siswa terbiasa tidur bersama teman. Hal-hal kecil seperti penggunaan kipas saja bisa jadi masalah,” ujarnya.
Selain faktor lingkungan, beberapa siswa juga memilih keluar karena persoalan keluarga hingga keinginan untuk bekerja. Pihak sekolah tidak bisa berbuat banyak atas keputusan tersebut, meski mereka tetap diharapkan meneruskan pendidikan. Sebagian merasa lebih nyaman kembali ke luar dan mencari penghidupan sendiri,” imbuhnya.
Selain siswa, guru dan tenaga pendidik juga menghadapi tantangan tersendiri. Tantangan yang dirasakan saat ini adalah membangun motivasi belajar siswa.
“Sebagian siswa memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, bahkan ada yang lama tidak bersekolah,” pungkasnya.[Hanna]
Halaman ini telah dilihat: 22 kali







