SEMARANG (iPOLICENews) – Di Kota Semarang, Jawa Tengah ada sebuah kawasan hutan yang dikenal cukup angker. Kawasan itu adalah hutan Tinjomoyo yang berada di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.
Diketahui, di dalam hutan Tinjomoyo itu ada sebuah batu yang konon merupakan tempat berkumpulnya kuntilanak. Batu tersebut dikenal dengan nama watu kunti.
Berdasarkan mitos yang beredar di kalangan masyarakat, batu tersebut merupakan tempat menaruh sesajen untuk mencari kekayaan, jodoh dan lainnya. Juga tempat berkumpulnya kuntilanak yang sering menampakkan diri, sehingga disebut watu kunti.
Sama seperti hutan-hutan lainnya, hutan Tinjomoyo ini suasananya begitu senyap. Bahkan hutan tersebut terkesan lebih angker karena adanya mitos dijadikan tempat sesajen.
Hal itu dibuktikan saat Ketua Komunitas Semarangker (Semarang Angker), Pamuji Yuono bersama timnya menjelajah ke hutan Tinjomoyo tersebut.
Pamuji bersama timnya melakukan jelajah pada tahun 2019, ingin membuktikan apakah mitos yang selama ini diperbincangkan masyarakat itu benar?
“Ada sebuah batu yang dulunya dipakai sebagai tempat pemujaan meminta jodoh, ingin kaya, dan lainnya. Dan batu tersebut konon dipakai untuk rumah kuntilanak sehingga warga menyebutnya watu kunti,” kata Pemuji kepada INDONESIANPOLICENEWS.ID, Senin (20/12/2021).
Pamuji mengungkapkan, watu kunti yang berada di dalam hutan Tinjomoyo mitos pantangannya adalah tidak boleh disentuh. Apalagi sampai dinaiki.
Menurut Pamuji, pada tahun 2007/2008 Semarangker pernah mendatangi watu kunti dan menaikinya, saat itu keluar asab dari batu tersebut. Dan setelah 10 tahun lebih, pada tahun 2019 Semarangker datang kembali ke watu kunti, karena infonya kuntilanak itu sering menampakkan diri di watu kunti tersebut.
“Semarangker akan melanggar mitos pantangannya, karena Semarangker apapun mitos pantangannya selama tidak melanggar norma-norma yang ada dan mendapat ijin dari juru kunci, apapun pantangannya akan dilanggar,” ungkap Pamuji.
“Mitosnya, jika batu kunti ada yang menaikinya akan membuat kuntilanak itu marah. Itu hanya mitos, sesuatu yang tidak jelas kebenarannya,” kata Pamuji.
“Kini Semarangker sudah memecah mitos yang katanya dengan menyentuh atau menaiki watu kunti, maka akan dicekik kuntilanak, itu tidak terbukti,” imbuhnya.
Namun saat penjelajahan, Pamuji dan timnya membuktikan adanya tanaman atau daun yang bergerak sendiri meskipun tidak ada angin, serta suara-suara asing.
“Gaib itu ada tapi kita harus menyikapinya dengan smart n wise (cerdas dan bijak) karena segala yang ada di semesta ini adalah atas kehendak Tuhan yang Maha Kuasa,” tukasnya.
“Apapun agamamu hanya kepada Tuhan yang Maha Esa kita menyembah,” pungkas dia. (Nn)








Semangat terus semarangker menguak mitos dan fakta
SEMARANGKER lestari jaya…