SEMARANG (iPOLICENews) – BERMULA hobi nonton tayangan berita televisi sejak sekolah dasar (SD), pembawa berita Kompas TV Jateng, Febriana Jamilatul Mila punya perjalanan menarik terkait dengan pilihannya menjadi jurnalis televisi.
Gadis kelahiran Jepara ini menceritakan, bermula hobi nonton tayangan berita membawa hobinya ke ranah dunia karir. Awal mulanya, JM-sapaan akrabnya-juga ikut mendaftar casting presenter di Program Berita Kampus (BK) kompas TV Jateng. Dari situ, ia berhasil lolos menjadi pembawa acara di program tersebut.
“Enggak sengaja dulu ada casting di Berita Kampus untuk pemilihan presenter. Tiba-tiba saya ada keinginan untuk ikut. Dan ternyata bisa lolos menjadi pembawa berita,” kata Febriana Jamilatul Mila, Senin (11/1/22).
JM menuturkan, ketika casting di BK mengaku dirinya tidak belajar sama sekali tentang pembacaan berita yang baik dan benar. Namun ia hanya bermodalkan dari pemahaman menonton tayangan berita di televisi.
“Jujur saya tidak belajar saat casting. Apalagi prompter dan lain sebagainya, benar-benar buta banget di dunia jurnalis. Tentunya hanya pemahaman yang saya miliki ketika melihat berita di TV, ” ucapnya.
Mulai dari situ, JM langsung mencari refrensi hingga melatih kemampuan membaca dari berbagai tulisan dimulai dari berita hingga cerpen, kemudian dipraktikan dengan intonasi selayaknya pembawa berita.
“Otodidak banget, tapi ya harus dijalani. Akhirnya dari berita kampus dari 2019 sampai 2020. Saya sudah banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang jurnalistik,” terangnya.
Setelah purna dari berita kampus, ia tak berhenti disitu saja. Ia mencoba melangkah menuju karir idaman di sebuah media televisi swasta ternama yakni Kompas TV Jateng. Beruntungnya, lanjutnya, Kompas TV Jateng sedang membutuhkan presenter freelance. Mendapatkan informasi itu, JM langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti audisi casting presenter di stasiun televisi tersebut.
“Akhirnya saat itu bisa ikut audisi casting. Alhamdulillahnya lolos,” tandasnya.
Di sisi lain, perempuan kelahiran 22 Februari 1997 ini menyampaikan, perjalanan yang berbeda dari berita kampus ke Kompas TV Jateng. Sebabnya JM mengakui ketika di berita kampus hanya menjadi presenter saja. Namun di Kompas TV Jateng harus serba bisa menjadi presenter dan reporter.
“Ya gimana kita mencari berita sekaligus menulis nulis. Bahkan terkadang edit video liputan sendiri. Dari sini aku menilai bahwa inilah pekerjaanku sesuai dengan fashionku dan menghasilkan pendapatan. Ketika tidak dibilang hobi dan skill tidak dilatih, enggah bisa jadi presenter,” ungkapnya.
*PENGALAMAN*
Ia membeberkan pengalaman jurnalis selama dua tahun ini merasa berharga ketika di lapangan maupun di studio. Di tambah, banyak momentum yang diraih misalnya bisa bertemu pejabat ternama. Seperti contoh pengalaman liputan Ibunsa Presiden Joko Widodo, Sujiatmi yang dikabarkan meninggal dunia di Solo pada Rabu (25/3/20). Dimana pada saat itu, Kota Solo sedang berada di zona merah kasus Covid-19. Pengalaman baru ini dialami oleh JM sehingga merasakan selayaknya sedang bertugas di wilayah perang.
“Bingung awalnya mau live on camera pakai masker atau tidak. Jadi pas liputan meninggal dunianya Ibunda Jokowi, kami naikan berita di beberapa program. Perjuangannya kaya gini banget jadi jurnalis, dimana orang-orang pada proteksi sama diri masing-masing. Saya mengibaratkan kita sedang mengorbankan nyawa,” keluhnya.
JM mengatakan, pengalaman selain itu yakni dimana dirinya sedang mendapatkan tugas untuk meliput aksi demonstrasi mahasiwa yang menuntut RUU Omnibuslaw di DPRD Jawa Tengah sedang ricuh. Kondisi memulai memanas ini dimana massa aksi melempari batu ke arah gedung perwakilan rakyat tersebut. Beruntungnya JM bisa menyelematkan diri dari lemparan batu oleh massa aksi.
“Benar-benar pengalaman liputan demo. Massa aksi sudah bentrok dengan aparat hingga melemparkan batu ke arah tim kami. Waktu itu saya lari menuju di belakang mobil Kompas. Bahkan batu yang dilempar bisa melewati mobil kita, saya juga hampir kena kericuhan demo. Alhamdulillah saat ricuh, saya ditolong sama orang baik hingga saya ditarik mundur agar tidak menjadi korban,” tuturnya.
Baca Juga : Per 10 Januari, Tarif Tiket Masuk Lawang Sewu dan Museum Ambarawa Berubah
Lebih lanjut, JM ketika kondisi ricuh dari massa aksi demonstrasi yakni bagaimana caranya mengatur live report kondisi terkini demonstrasi. Soalnya ia tak mempersiapkan pengamanan peliputan demo seperti rompi dan helm. Kendati demikian, JM hanya bisa berpasrah kepada Allah agar diberikan keselamatan saat menjalankan tugasnya.
“Rasanya itu deg-degan liputan demo. Dimana saya harus melaporkan situasi terkini tapi perasaan takut masih ada. Bagaimana caranya kita harus melakukan. Berhubung kondisi semakin rusuh, saya minta kepada tim untuk mengulur waktu live report. Akhirnya tim sepakat tunggu sebentar lagi sampai gas air mata berhenti. Kendala terjadi lagi karena mataku masih perih akibat gas air mata. Alhamdulillah masih tertolong sama orang yang baik memberikan odol (pasta gigi). Mataku sudah mulai pulih kemudian live berjalan lancar,” jelasnya.
Saat ditanya jika ada mahasiswa fresh graduate yang ingin masuk dunia presenter televisi, JM berpesan untuk tidak menjadi seseorang yang merasa tidak nyaman dengan kondisi yang dimiliki setiap manusia. Pastinya soal tinggi badan seseorang dan good looking bukan prioritas utama menjadi jurnalis TV. Utamanya yakni seorang presenter miliki ilmu pengetahuan dan integritas yang baik.
“Jika minat, pesan saya hanya satu yakni mau belajar. Soalnya persenter dan reporter memang harus banyak tahu dengan cara jangan malu untuk bertanya. Asalkan jangan bosan belajar. Enggak mungkin liputan tidak tahu dasarnya. Nah disini fungsinya belajar yang menuntut harus cepat. Merasa insecurean jangan jadi reporter. Percaya diri dan mau belajar saja,” bebernya.
JM berharap, generasi muda yang ingin masuk menjadi presenter ialah bijaksana dan kredibel dalam pemberitaan. Hal itu bertujuan untuk tulisan seorang jurnalis bisa dipertanggungjawabkan.
“Tulisanmu bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan fakta. Bukan karena tembel-embel, entah kamu dibayar atau kamu suka sama orang atau enggak,” paparnya. (DK)







