Menjelajah Sarang Wewe Gombel

SEMARANG (iPOLICENews) – Di Kota Semarang, ada sebuah bukit yang bernama Bukit Gomel, dimana tempat ini terkenal dengan cerita mistis menyeramkan yang dikenal dengan hantu Wewe Gombel.

Di kawasan Bukit Gombel terdapat bangunan besar eks Hotel Sky Garden yang sekarang kosong tak berpenghuni. Masih ditambah rimbunnya pepohonon di sekitar sehingga terkesan angker pada bangunan itu.

Konon, Hotel Sky Garden yang dibangun pada tahun 1970 an dan sempat jaya pada era 1980 an kemudian tutup pada sekitar akhir tahun 1982.

Dikutip dari Solopos.com, Rabu (11/11/ 2021), mitos yang berkembang, bangunan bekas Hotel Sky Garden di Bukit Gombel merupakan basis Wewe Gombel, sehingga bangunan tersebut memiliki nuansa mistis yang kuat.

Diceritakan, Wewe Gombel merupakan jelmaan seorang wanita yang rohnya gentayangan. Dia mati bunuh diri di sebuah pohon di kawasan Bukit Gombel tersebut.

Wewe Gombel diyakini merupakan sosok perempuan yang bisa berubah wujud menjadi siapa saja dengan ukuran payudara yang luar biasa besar.

Konon, Wewe Gombel dipercaya suka menculik anak-anak kecil dan menyembunyikannya. Anak-anak yang diculik oleh Wewe Gombel ini adalah anak-anak yang kurang diperhatikan orang tuanya.

Dikisahkan oleh warga sekitar, Suryono, bahwa sebelum menculik anak-anak, biasanya Wewe Gombel menakut-nakuti orang tuanya terlebih dahulu.

Tujuan Wewe Gombel menculik anak-anak ini sebagai bentuk pembelaan kepada anak-anak yang merasa kurang diperhatikan oleh orang tua. Wewe gombel akan menunjukkan tempat di mana dia menyembunyikan anak-anak itu jika sang orang tua menyesal dan berjanji akan memperhatikan.

Saat diculik Wewe Gombel, anak-anak ini akan diberi makan berupa kotoran manusia. Kotoran itu diubah sehingga terlihat seperti makanan enak yang disukai anak-anak.

Tujuan diberi makanan berupa kotoran manusia itu supaya anak-anak menjadi bisu dan tidak bisa menceritakan apa yang telah dialami ataupun bentuk dari Wewe Gombel yang menyeramkan tersebut.

Cerita hantu Wewe Gombel ini sering digunakan oleh orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar tidak keluyuran ke luar rumah sendirian. Untuk dapat menemukan anak yang diculik Wewe Gombel, keluarga harus berkeliling dan menyembunyikan bunyi-bunyian dari peralatan dapur.

Bunyi itu sebagai musik mengiringi nyanyian dengan syair statis namun ritmis yang berbunyi “blek blek blek ting (diikuti nama anak yang hilang) metuo (keluarlah)” Nyanyian itu menjadi sebuah mantera yang mengelilingi kampung. nantinya, anak itu akan muncul dengan sendirinya.

Sedangkan untuk penamaan Bukit Gombel menurut warga sekitar diambil dari operasi militer di masa kolonialisme dan tidak ada hubungannya dengan sosok Wewe Gombel. Justru nama Wewe Gombel disematkan karena sosok hantu yang juga dikenal dengan nama kolong wewe itu sering muncul di kawasan Bukit Gombel.

Untuk menguak mitos tersebut, Komunitas Semarangker menjelajahi Bukit Gombel, eks Hotel Sky Garden, tempat yang terkenal sangat angker itu.

Menurut Ketua Semarngker, Pamuji Yuono, Bukit Gombel ini masuk dalam 7 tempat angker di Indonesia. Semangker sendiri sering melakukan penjelajahan di Bukit Gombel ini seiring mitos yang berkembang. “Selain penampakan Wewe Gombel, bukit ini konon dulunya sering dijadikan pembuangan mayat,” kata Pamuji, Senin (21/2/2022).

Suatu malam, Pamuji bersama tim melakukan penjelajahan di eks Hotel Sky Garden. Di tempat tersebut mitosnya banyak ruangan kosong yang belum terjamah oleh orang-orang, dan malam itu Semarangker mencoba untuk memasukinya.

Saat Pamuji mengelilingi gedung tersebut, Pamuji merasakan bau anyir seperti bau darah. Dia juga mendengar suara tembok yang dipukul-pukul, bahkan ada suara orang sedang bersiul.

Pamuji juga mendapati pohon besar yang berada diantara lorong-lorong kamar, yang konon mitos pantangannya tidak boleh menarik akar pada pohon tersebut. Namun Semarangker selalu melanggar mitos pantangannya, selama tidak melanggar norma-norma yang ada. “Apapun mitos pantangannya selama tidak melanggar norma-norma, kami akan langgar,” ujar Pamuji.

Setelah Pamuji menarik beberapa kali akar pohon itu, Pamuji tidak mendapati fenomena apapun. Dirinya hanya mendengar suara langkah dan lemparan benda. Selain itu, Pamuji juga melihat gumpalan asap di atas dekat pohon.

“Gaib itu memang ada, tapi kita harus menyikapinya dengan Smart n Wise (cerdas dan bijak). Apapun agamamu hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa kita percaya dan menyembah,” tandasnya. (Nn)

Halaman ini telah dilihat: 1,244 kali
Mari berbagi:

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *