SEMARANG (iPOLICENews) – Pemerintah Kota Semarang bersiap menggelar Karnaval dan Perayaan Paskah Kota Semarang 2026 yang menjadi agenda tahunan yang akan diikuti ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat
“Karnaval ini tidak sekadar seremoni keagamaan. Ini menjadi sebuah kolaborasi lintas sektor dan lintas iman,” kata Wali kota Semarang Agustina Wilujeng pada Kamis (16/04/2026)
Ribuan peserta dari berbagai elemen akan turun ke jalan, menghidupkan ruas Kota Lama hingga Balai Kota Semarang, Jumat (17/4) dalam sebuah kirab penuh warna, pesan damai, dan semangat persatuan.
Kegiatan akan dimulai dari pukul 13.00 WIB di kawasan Gereja Blenduk, Kota Lama, dilanjutkan dengan rangkaian pembukaan dan ibadah.
Puncaknya, para peserta karnaval akan
bergerak dalam kirab menuju Balai Kota Semarang, dengan menyusuri jalur utama kota yang selama beberapa jam akan bertransformasi menjadi ruang ekspresi dan perayaan publik.
Karnaval melibatkan peserta dari sekolah-sekolah Kristen dan Katolik, gereja-gereja se-Kota Semarang, perguruan tinggi, rumah sakit, organisasi perempuan, hingga komunitas lintas agama seperti Pelita dan perwakilan PHDI.
Kehadiran beragam unsur itu, menegaskan bahwa Semarang merawat toleransi bukan dalam wacana, tetapi dalam aksi nyata di ruang publik.
Seiring dengan karnaval tersebut, ia memastikan kegiatan berjalan tertib melalui skema rekayasa lalu lintas terpadu.
Mulai pukul 13.00 WIB, pengalihan arus diberlakukan secara bertahap di sejumlah simpang strategis, antara lain Imam Bonjol, Agus Salim, Gajahmada, Letjen Suprapto, Sendowo, hingga Ki Nartosabdo.
Jalan Pemuda, sebagai jalur utama kirab, akan ditutup sementara selama kegiatan berlangsung.
Penutupan awal juga diterapkan di kawasan Simpang Paragon dan Cendrawasih, dengan pengaturan lanjutan bersifat situasional mengikuti dinamika di lapangan.
Untuk mengurangi kepadatan, masyarakat diarahkan memanfaatkan kantong parkir antara lain Gedung Parkir Balai Kota, DP Mall, Udinus, SMU 3, Museum Mandala Bhakti, area belakang Spiegel, dan Metro Point.
Warga diimbau untuk mengantisipasi perjalanan, menghindari jalur terdampak, serta mematuhi arahan petugas.
“Momentum ini bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang bagaimana kota ini dikelola secara tertib di tengah tingginya aktivitas publik,” katanya.
Karnaval Paskah 2026 mempertegas wajah Semarang sebagai kota yang hidup, inklusif, dan solid dalam keberagaman.
“Ruang jalan tidak hanya dilalui kendaraan, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk merayakan nilai kemanusiaan,” pungkasnya.
(Eko Bhaktianto)



