SEMARANG (iPOLICENews) – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menggelar rapat koordinasi penanganan pedagang korban kebakaran relokasi pasar Johar MAJT, di Balai Kota Semarang.
Dalam rapat tersebut, perwakilan koordinator pertokoan Pasar Johar relokasi MAJT, Simon mengungkapkan jika ada 393 pedagang yang menjadi korban kebakaran. Dirinya pun meminta adanya perhatian khusus dari Walikota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut.
“Dari 393 pedagang yang menjadi korban, 263 pedagang sudah punya ijin untuk bisa segera menempati Pasar Johar, 130 pedagang belum, dan akan direlokasi di sekitar Pasar Kanjengan sebanyak 130 lapak, dengan masing-masing lapak luasnya 1.5×2 meter persegi. Untuk beban pedagang sebanyak 393 ini kami mohon Pak Wali bisa membantu pedagang,” ujar Simon, Jumat (11/2/2022).
Menanggapi apa yang disampaikan Simon selaku perwakilan pedagang, Hendi pun meyakinkan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan berkomitmen untuk memberi perhatian pada pedagang yang menjadi korban kebakaran.
Salah satunya terkait tempat relokasi untuk 130 pedagang yang belum dapat menempati Pasar Johar. Pasalnya, pedagang yang terkena musibah kebakaran itu sebagian besar merupakan pedagang Dasaran Terbuka (DT), yang masih harus menunggu renovasi Shopping Center Johar (SCJ).
“Jadi maksimal 1 Maret sudah bisa masuk. Sebanyak 130 pedagang yang belum dapat undian tadi ada di lapak sementara,” kata Hendi.
“Karena merupakan kejadian insidental, maka pembangunan tempat relokasi akan menggunakan Biaya Tidak Terduga (BTT) yang ada di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang,” tambahnya.
Di sisi lain, Hendi juga menyatakan akan terus mengawal proses bantuan yang akan diberikan kepada para pedagang korban kebakaran pasar relokasi Johar di MAJT. Dalam rapat koordinasi tersebut ia sekaligus memastikan adanya bantuan yang akan segera diberikan kepada pedagang.
“Kita sudah melakukan koordinasi dengan Pemkot Semarang termasuk Bank Jateng dengan CSR-nya sampai Rp 1 miliar 72 juta, dari PDAM ada Rp 350 juta, ada juga bantuan CSR dari salah satu perusda di Provinsi Jawa Tengah, SPHCT sebanyak Rp 150 juta. Mungkin memang tidak banyak, namun saya sampaikan bahwa ini adalah tanda tresno kita supaya panjenengan bisa memulai berjualan lagi,” tutur Hendi di hadapan para pedagang.
Ia menekankan soal transparansi agar bantuan yang diberikan benar-benar dikirim ke rekening Bank Jateng yang dimiliki oleh masing-masing pedagang.
“Bagi yang sudah memiliki rekening Bank Jateng kumpulkan ke Pak Nurkholis (Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang), bagi yang belum silakan hari ini atau besok buka rekening di Bank Jateng. Bantuan tambahan lainnya yaitu bantuan kredit yang bisa dipakai teman-teman untuk menambah modal kerjanya,” pungkasnya.
Untuk skema bantuan permodalan, Hendi menjelaskan Bank Jateng telah menyiapkan skema kredit milenial, dengan syarat antara lain berusia 21 tahun hingga 45 tahun, memiliki KTP, dan kios di pasar Johar, serta tidak memiliki pinjaman di bank lain untuk modal kerja.
Sedangkan, skema lain yang ditawarkan oleh Bank Jateng adalah pinjaman sampai dengan Rp 500 juta, serta skema kredit lain yang umum. (Nn)







