SEMARANG (iPOLICENews) – Banyak remaja berbondong-bondong mencari lowongan tes untuk masuk ke perusahaan ternama ataupun menjadi karyawan di sebuah lembaga besar dan terkenal.
Seperti BUMN, PNS, bahkan isu yang mencuat, mereka berlomba-lomba mendaftar di industri hiburan Entertaiment. Fresh graduate rata-rata memulai karir pasca wisuda dengan berbondong-bondong melamar perkerjaan.
Eksistensi office look dengan kalung id card berlogo perusahaan besar selalu menjadi ukuran keberhasilan. Tanpa disadari perkerjaan-pekerjaan yang sebenarnya terlihat good look bahkan menjadi banyak impian orang adalah pekerjaan yang memang kita harus mau tidak mau beradaptasi dengan lingkungan, orang-orang sekitar, bahkan aturan yang berbeda dengan idealis atau pemikiran kita sendiri.
Namun begitulah dunia kantor, sibuk penuh hiruk pikuk dan tekanan diberbagai bidang. Mengenai sudut pandang, wirausaha sering dianggap remeh karena kerja hanya memakai kaos dan celana. Dibalik itu semua ada hal positif vibes yang mungkin tidak banyak orang tau.
Pengusaha baik itu retail besar atau kecil selama ia pemilik maka ia adalah bosnya. Tidak ada pressure yang tidak mungkin ia atur, fleksibelnya waktu bahkan prospek yang ia mau. Menciptakan perkerjaan bagi banyak orang dan tetap bisa berperan sebagai mahluk sosial semestinya.
Wirausaha memang membutuhkan modal dimana hal tersebut seharusnya menjadi goals daripada kepemilikan setelah kuliah. Wirausaha juga membentuk mental seseorang menjadi lebih tanggung jawab, produktif, inovatif, kreatif bahkan lebih bijak dalam berpikir.
Wirausaha tak pernah asing dengan kata ditipu, salah order, complaint, retur atau bahkan dicaci. Hal tersebut tentulah semakin men-chalenge dari wirausaha yang lain.
Mental seperti inilah yang dibutuhkan untuk membentuk pelaku ekonomi yang kuat. Orang yang berani berwirausaha akan menjadi orang yang selektif dalam memilih apapun. Lebih panjang dalam berpikir dan mampu memecahkan masalah sendiri.
Berwirausaha tidak hanya memikirkan kemauan diri sendiri dan ego diri sendiri. Namun, lebih memilih kesejahteraan orang banyak termasuk orang-orang yang ikut dalam tim usaha.
Sedangkan karyawan adalah orang yang sudah dipastikan dengan rentang gaji sesuai kesepakatan. Namun karyawan akan tetap berstatus karyawan meski tinggi jabatan.
Pola pikir menginginkan terkait suatu kedudukan dalam jabatan perusahaan memanglah baik, namun analogi demikian itu ibarat kita ikut memberi bintang di galaksi yang paling terang, yakni target perusahaan.
Namun secara sisi sosiologi, mindset orang yang bekerja di perusahaan adalah gajinya besar. Indonesia sudah menjamur terkait hal tersebut, dimana kerja adalah dia yang memakai outfit kantor dengan id card logo perusahaan yang besar.
Jadi masih minat jadi karyawan atau pemilik karyawan?
Oleh: Siti Nurul Chikmah, Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi (Angkatan 2018) Universitas Wahid Hasyim Semarang.







