Tanah Gerak di Jangli Semarang Terus Terjadi, Retakan Kian Menganga

SEMARANG (iPOLICENews) – Peristiwa tanah gerak di RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, masih terus terjadi. Pergeseran terjadi secara perlahan tapi konsisten, sehingga kerusakan rumah kian bertambah. Ketua RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli, Joko Sukaryono mengatakan, pergerakan tanah masih terpantau sejak pagi hingga siang hari.

“Saat ini masih ada pergerakan perlahan-lahan secara masif. Pergeseran itu terjadi terus tiap detik, terakhir tadi sekitar jam 08.00 WIB pagi sampai siang tadi jam 13.00 WIB,” kata Joko.(10/2/2026).

Joko jelaskan bahwa total warga RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli berjumlah 63 KK, dengan 15 rumah atau 17 KK yang terdampak langsung pergerakan tanah.

Ia juga sebut pergerakan tanah semakin terlihat jelas dibandingkan hari sebelumnya, retakan lantai rumah warga yang awalnya hanya beberapa sentimeter kini bertambah lebar.

“Yang kemarin lebarnya sekitar 5 sentimeter, sekarang sudah hampir 10 sentimeter. Bahkan ada rumah yang turun sekitar 5 sentimeter,” jelasnya.

Hingga saat ini, kata Joko, tercatat sebanyak 15 rumah terdampak pergerakan tanah. Dua di antaranya dinyatakan tidak bisa dihuni karena mengalami kerusakan berat.

“Yang tidak bisa dihuni ada dua rumah. Satu rumah sudah dipindahkan ke bangunan di sebelahnya,” kata Joko.

Sementara itu, warga lain yang rumahnya juga rusak parah untuk sementara tinggal di rumahnya karena posko pengungsian belum bisa ditempati dan hari ini, warga sedang mengupayakan agar posko pengungsian bisa dihuni warga yang rumahnya terdampak.

“Kalau untuk malam ini, kemungkinan rumah sejumlah warga tidak bisa ditempati. Kita sudah bikin posko darurat di musala,” ucapnya.

“Untuk yang ngungsi kemarin belum ada karena kita belum siapkan tenda untuk pengungsian baru, baru poskonya aja. Insyaallah kita usahakan malam ini yang terdampak dievakuasi,” lanjutnya.

Menurut Joko, BPBD Kota Semarang sudah kembali melakukan peninjauan ke lokasi pada pagi hari dan merekomendasikan agar warga di wilayah terdampak tidak menempati rumah sementara waktu.

“Saran dari BPBD, rumah-rumah yang terdampak sebaiknya tidak ditinggali dulu dan dilakukan evakuasi,” jelasnya.

Saat ini, bantuan yang telah diterima warga berupa sembako serta perlengkapan darurat seperti terpal dan matras.

“Kita baru menerima bantuan dari BPBD berbentuk sembako dan terpal atau matras untuk pengungsian. Tenda posko sudah berdiri cuman untuk tenda pengungsiannya yang belum,” ujarnya.

Joko menyebut warga masih mengharapkan adanya relokasi ke tempat yang lebih aman, dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi warga.

“Harapannya warga yang terdampak bisa direlokasi di tempat yang lebih aman. Status rumah kami itu kan di tanah TNI AD, kita berharapnya bisa direlokasi di wilayah TNI AD,” harapnya.

“Karena sebagian besar warga disini pekerjaannya adalah buruh maka dari faktor ekonomi kalau direlokasi lebih jauh nggak memungkinkan lah. Nanti akan kesulitan,” pungkasnya.
( Yd IPN/ Dtcom )

Halaman ini telah dilihat: 21 kali
Mari berbagi:

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *